Puisi-puisi Moh Andika
ANATOMI KEJATUHAN
Ada suara tipis yang menghubungkan nalar dan dada
seperti serat cahaya yang menahan dua langit
agar tidak saling runtuh.
Kadang ia terasa seperti malam yang menegur,
menyentuh pundak dengan dingin,
mengajak hati untuk berhenti berlari,
agar tak jatuh pada pelukan yang semu,
agar tak percaya pada tangan yang mungkin hanya bayang.
Setiap kali jantung ingin melampaui dirinya,
nalar merunduk dekat telinga,
membisikkan kebenaran yang tak ingin kudengar:
“Tak semua yang menyambutmu adalah rumah.”
Rasa menyala seperti bara yang ingin hidup,
nalar berdiri seperti dinding yang belajar dari luka.
Keduanya saling melingkari,
menjaga, menahan, saling menyangsikan.
Dan aku,
aku tinggal di batas yang nyaris retak,
di celah antara keinginan untuk terbang
dan ingatan tentang tanah tempat aku pernah terhempas.
***
Pra Penulisan Puisi Kedua
Ketika adik mulai mengetik pesan singkat dari perangkat portabelku menanyakan adakah puisi pendek yang segenre atau pembahasan serupa dengan Anatomi Kejatuhan aku justru dipaksa berhenti sejenak. Pesan sederhana itu membuka kembali ruang refleksi yang belum sepenuhnya kutinggalkan. Aku membaca ulang puisi yang kutulis pekan lalu, dan di sanalah aku menemukan titik terang di antara jatuh dan bangkit: kesadaran.
Dari titik itu, aku kembali menulis. Bukan tentang runtuhnya tubuh atau gegap gempita kegagalan, melainkan tentang ruang liminal wilayah di antara nalar dan rindu, antara dorongan untuk melampaui dan kebutuhan untuk bertahan. Sebuah jeda yang tak bernama, tempat napas belajar jujur, tempat seseorang tidak meloncat, tidak pula melarikan diri.
Puisi ini tidak memotret momen kejatuhan, juga belum merayakan bangkit sepenuhnya. Ia hadir sebagai fase transisi: masa setelah jatuh, ketika seseorang belajar berdiri kembali dengan pelan. Di sini, kejatuhan bukan tragedi dramatis, melainkan anatomi kesadaran pemahaman halus tentang kapan harus melangkah dan kapan harus diam, tanpa merasa kalah.
Maka lepas tidak berarti membenci, dan sadar bukan mematikan rasa. Asmara, ambisi, dan keterikatan runtuh justru ketika ingin disembah. Yang tersisa adalah diam yang jernih: kesunyian yang lebih kuat daripada cinta yang memaksa, dan kesadaran yang lahir pelan saat takut diakui dan rapuh diterima.Di situlah puisi ini tinggal di antara lepas dan sadar sebagai catatan sunyi tentang bertahan dengan utuh.
DI ANTARA LEPAS DAN SADAR
Lepas bukan membenci,
sadar bukan mematikan rasa.
Asmara runtuh saat ia ingin disembah.
Bersama atau berpisah, jiwa yang terikat tetap saja terluka.
Di antara nalar dan rindu ada jeda:
tempat napas belajar jujur.
Aku tinggal di sana
tak meloncat, tak melarikan diri.
Kesadaran lahir pelan,
saat takut diakui dan rapuh diterima.
Diam yang jernih lebih kuat
dari cinta yang memaksa.
***
Refleksi
Puisi “Di Antara Lepas dan Sadar” memotret kesadaran sebagai ruang liminal fase transisi setelah kejatuhan, ketika subjek belum sepenuhnya bangkit namun tidak lagi terjerat. Puisi ini menolak oposisi biner antara lepas dan membenci, sadar dan mematikan rasa, dengan menegaskan bahwa kedewasaan batin justru lahir dari kemampuan mengakui emosi tanpa tunduk padanya. Asmara dikritik bukan sebagai cinta itu sendiri, melainkan sebagai keterikatan yang runtuh ketika disakralkan dan dijadikan pusat keselamatan diri. Jeda di antara nalar dan rindu menjadi ruang etis tempat napas belajar jujur, di mana subjek memilih tinggal tidak meloncat, tidak melarikan diri sebagai bentuk tanggung jawab pada diri sendiri. Kejatuhan dipahami bukan sebagai tragedi dramatis, melainkan sebagai anatomi kesadaran: proses pelan mengakui takut dan menerima rapuh tanpa merasa kalah. Penutup puisi menegaskan tesis utamanya bahwa diam yang jernih, sebagai bentuk kesadaran yang tidak reaktif, memiliki kekuatan lebih besar daripada cinta yang memaksa.


