Memasuki hari ke-24 konflik terbuka antara koalisi Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, eskalasi justru mencapai titik tertinggi baru ketika Israel melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran terhadap ibu kota Teheran. Aksi ini terjadi hanya beberapa puluh menit setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan adanya kesepakatan 15 poin menuju resolusi konflik. Satu pihak mengklaim perdamaian, sementara pihak lain meluncurkan rudal, sebuah kontradiksi yang mengguncang pasar global dan memicu kekhawatiran akan perang regional total.
Gedung Putih dan Kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, hingga Senin malam masih bungkam mengenai hubungan antara pernyataan diplomatik Trump dan eskalasi militer di lapangan. Namun, juru bicara Pasukan Pertahanan Israel mengonfirmasi bahwa mereka telah memulai gelombang serangan skala luas yang menargetkan infrastruktur rezim Iran di Teheran, termasuk fasilitas rudal balistik yang diduga digunakan untuk menyerang Israel dan sekutu-sekutunya di kawasan Teluk.
Krisis ini dimulai dengan pernyataan mengejutkan dari Presiden Trump melalui platform Truth Social pada Senin pagi waktu setempat. Trump mengklaim bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mengadakan pembicaraan yang sangat baik dan produktif selama dua hari terakhir, yang menghasilkan 15 poin kesepakatan menuju resolusi total permusuhan. Ia bahkan menyebutkan bahwa negarawannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, terlibat langsung dalam dialog dengan seorang tokoh puncak di Iran. Namun, klaim tersebut langsung dibantah mentah-mentah oleh Kementerian Luar Negeri Iran. Dalam pernyataan resmi, Teheran menegaskan bahwa tidak ada dialog antara kedua negara, bahkan melalui perantara sekalipun. Seorang pejabat senior Iran bahkan menyebut bahwa Trump mundur setelah mendengar bahwa target balasan mereka adalah semua pembangkit listrik di Asia Barat. Kontradiksi ini memicu gelombang spekulasi di kalangan analis geopolitik, banyak yang menilai pernyataan Trump sebagai upaya manipulasi pasar di tengah melonjaknya harga minyak yang telah menembus angka 112 dolar AS per barel, atau sekadar taktik untuk meredam kepanikan domestik menjelang pemilu paruh waktu.
Sebelum serangan Israel diluncurkan, ketegangan telah meningkat tajam sejak akhir pekan. Trump mengeluarkan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi semua lalu lintas kapal komersial, dengan ancaman akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika tidak dipatuhi. Ancaman terhadap infrastruktur sipil ini langsung menuai kecaman dari para ahli hukum internasional. Geoffrey Corn, profesor hukum militer di Texas Tech University dan mantan perwira hukum Angkatan Darat AS, menilai ancaman tersebut kemungkinan besar akan dikategorikan sebagai kejahatan perang jika dilaksanakan karena menargetkan fasilitas yang memasok listrik ke rumah sakit dan kebutuhan dasar warga sipil. Alih-alih gentar, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf merespons dengan ancaman yang lebih mengerikan, menyatakan bahwa jika pembangkit listrik Iran diserang, maka infrastruktur vital di seluruh kawasan, termasuk fasilitas energi dan desalinasi yang penting untuk air minum di negara-negara Teluk, akan dianggap sebagai sasaran sah dan dihancurkan secara permanen.
Serangan udara Israel yang terjadi Senin dinihari itu sendiri diklaim sebagai respons atas serangan rudal Iran ke wilayah Negev, Israel selatan, akhir pekan lalu. Kantor Perdana Menteri Netanyahu menyebut serangan yang menargetkan area dekat fasilitas nuklir Dimona itu sebagai keajaiban karena tidak menimbulkan korban jiwa, meskipun puluhan orang dilaporkan terluka. Konflik yang dipicu oleh serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada 28 Februari lalu ini telah memicu krisis energi global yang oleh para ahli disebut lebih parah dibanding krisis minyak tahun 1970-an. Kepala Badan Energi Internasional, Fatih Birol, mengungkapkan data mengejutkan bahwa setidaknya 40 aset energi di kawasan Teluk telah rusak parah akibat serangan balasan Iran, mengakibatkan hilangnya pasokan minyak hingga 11 juta barel per hari. Iran secara efektif telah mencekik Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen minyak dunia, dengan menargetkan kapal-kapal tanker dan infrastruktur energi negara-negara Teluk yang menjadi sekutu AS.
Dalam 24 jam terakhir, Iran melanjutkan serangan terhadap infrastruktur energi negara tetangga. Drone Iran menghantam kilang minyak Mina Al-Ahmadi di Kuwait untuk kedua kalinya, memicu kebakaran besar. Sistem pertahanan udara di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi juga dikerahkan untuk mencegat rudal dan drone yang mendekati fasilitas-fasilitas vital mereka. Komandan Sentral AS, Laksamana Brad Cooper, dalam wawancara eksklusif justru meminta warga sipil Iran untuk tetap berada di tempat perlindungan untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Cooper mengklaim bahwa kampanye militer AS dan Israel berjalan sesuai rencana atau bahkan lebih cepat, dengan tujuan menghancurkan kemampuan militer Iran secara permanen.
Di tengah kekacauan ini, China muncul sebagai kekuatan diplomatik yang mendesak penghentian permusuhan. Utusan Khusus China untuk Timur Tengah, Zhai Jun, mengingatkan tentang siklus setan yang akan terjadi jika perang terus berlanjut, seraya menekankan bahwa Beijing akan terus berkomunikasi dengan semua pihak untuk meredakan ketegangan. Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, mengakui bahwa Trump marah karena sekutu-sekutu Eropa menolak permintaan AS untuk mengirim kapal perang guna membuka blokade Selat Hormuz. Meski demikian, Rutte mengklaim ada 22 negara yang kini bersatu untuk mengimplementasikan visi AS di kawasan tersebut.
Iran sendiri mengklaim telah memasuki fase baru dalam konflik ini. Korps Garda Revolusi Islam mengumumkan bahwa mereka telah melaksanakan gelombang ke-74 dan ke-75 dari Operasi Janji Sejati-4, menggunakan rudal balistik canggih seperti Emad dan Khorramshahr-4 untuk menghantam target di kedalaman wilayah Israel serta pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan. Korban jiwa terus berjatuhan di semua sisi. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan lebih dari 1.500 warga Iran tewas sejak konflik dimulai, sementara di Israel, 15 orang dilaporkan tewas akibat serangan rudal Iran. Namun, korban terbesar justru terjadi di Lebanon, di mana serangan Israel terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran telah menewaskan lebih dari 1.000 orang dan mengungsi lebih dari satu juta warga. Di sisi lain, Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS memperkirakan jumlah korban tewas di Iran telah mencapai 3.230 orang, termasuk 1.406 warga sipil, meskipun angka ini masih sulit diverifikasi secara independen karena terbatasnya akses jurnalis asing ke zona konflik.
Dengan tidak adanya titik temu antara klaim damai Trump yang kontroversial dan realitas serangan di lapangan, dunia kini berada di tepi jurang. Selat Hormuz tetap menjadi ruang mesiu yang siap meledak kapan saja. Peringatan Iran bahwa mereka akan menghancurkan secara permanen infrastruktur vital seluruh kawasan jika pembangkit listrik mereka diserang bukan sekadar retorika, ini adalah ancaman yang jika direalisasikan akan menjerumuskan Timur Tengah ke dalam kegelapan dan kelaparan yang belum pernah terjadi sebelumnya.


