28.4 C
Yogyakarta
Jumat, Februari 6, 2026
spot_img

Jebakan Elitisme dalam Tubuh Himpunan Mahasiswa Islam

Sebentar lagi, organisasi mahasiswa (ormawa) yang digadang-gadang sebagai ormawa terbesar dan tertua di Indonesia, Himpunan mahasiswa Islam (HmI), akan memasuki usia ke-79 tahun. Angka 79 sejatinya adalah angka spesial sekaligus keramat. Jika Anda memercayai mistisme angka atau yang kondang disebut numerologi, angka 79 melambangkan kebijaksanaan dan kesejahteraan. Tak hanya itu, dalam tabel periodik unsur kimia, 79 adalah nomor atom untuk emas, jenis logam mulia yang bernilai tinggi. Bahkan, saking keramatnya, angka 7 dan 9 sering dianggap sebagai angka keberuntungan yang kerap muncul dalam judi togel.

Namun, memasuki usia yang tak muda lagi ini, apakah Himpunan masih berjalan sesuai dengan raison d’être-nya? Apakah tujuan organisasi untuk membina dan membentuk insan cita dalam rangka mewujudkan masyarakat adil makmur masih menjadi pegangan para kader, ataukah hanya sekadar bualan instruktur yang terus diulang-ulang dalam forum-forum pelatihan?

Quo vadis, Himpunan ini?

Sejak diprakarsai pendiriannya oleh Lafran Pane pada tahun 1947, tujuan dibentuknya organisasi HmI sebenarnya tidak muluk-muluk. Pertama, “mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia”. Kedua, “menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam”. Tujuan ini disusun berdasarkan konteks sosial-politik ketika itu. Pada tahun 1947, Indonesia baru saja merdeka dari penjajahan, sehingga upaya mempertahankan kedaulatan negara sangatlah diperlukan. Di sisi lain, ada ancaman sekularisasi dan westernisasi yang merongrong nilai agama, budaya, serta gaya hidup masyarakat, khususnya di kalangan pemuda dan pelajar.

Sepanjang sejarah perjalanannya, tujuan HmI mengalami beberapa perubahan, yakni pada Kongres I di Yogyakarta tahun 1947, Kongres IV di Bandung tahun 1955, dan terakhir Kongres X HmI di Palembang tahun 1971. Tujuan HmI yang ditetapkan dalam Kongres X tersebut adalah yang hingga hari ini masih dipakai dan dihafalkan oleh para kader.

Jika menilik narasi tujuan HmI dari yang paling awal hingga yang saat ini digunakan, ada satu spirit sentral yang menjadi ruh dari semuanya, yakni pengabdian dan kemasyarakatan. Namun, melihat realita hari ini, spirit tersebut tidak benar-benar dijiwai lagi oleh kader HmI. Hal ini bukan tanpa alasan. Lihat saja bagaimana kader-kader saat ini sangat berjarak dari masyarakat. Kegiatan-kegiatan organisasi nyaris tak pernah menjangkau persoalan-persoalan yang ada di masyarakat akar rumput.

Di samping itu, tema maupun kurikulum yang disusun dalam berbagai forum pelatihan resmi HmI terkesan hanya berputar pada persoalan yang itu-itu saja. Dasar pemikiran dan kajiannya rendah, tetapi bahasa yang digunakan justru menjulang tinggi, setinggi langit. Istilah-istilah seperti revitalisasi, rekonstruksi, transformasi, membangun karakter, hingga memetakan peradaban menjadi pilihan kata andalan untuk tema-tema kegiatan HmI. Lucunya, istilah-istilah tinggi dan berat itu seakan kehilangan makna karena kegiatan-kegiatan yang diadakan sering kali terselenggara tidak tepat waktu.

Lebih jauh lagi, kemasyarakatan dan pengabdian sebagai napas utama organisasi HmI kini semakin memudar karena banyak kader lebih sibuk membangun jaringan politik pribadi dan mengejar jabatan organisasi. Hal yang dulunya menjadi suluh gerakan kini tergantikan oleh formalitas seremonial dan ambisi kekuasaan. HmI pada akhirnya menjadi semacam wadah elit kampus yang terputus dari denyut nadi masyarakat.

Organisasi Para Elit

Disadari atau tidak, Himpunan mahasiswa Islam kini terperangkap dalam jebakan elitisme. Elitisme adalah paham yang memandang bahwa mereka yang terpilih dan terbaik lebih berhak berkuasa dibandingkan yang lain. Kata ini berasal dari bahasa Latin yang berarti “yang dipilih”. Dalam praktiknya, elitisme sering dikaitkan dengan sikap eksklusif serta dominasi kelompok kecil yang menganggap dirinya lebih baik daripada yang lain.

Dalam HmI, kita melihat bagaimana kesempatan dan privilese untuk berproses seolah hanya diperuntukkan bagi segelintir orang, terutama ketum-ketum beserta lingkaran terdekatnya. Hal ini menyebabkan ruang kaderisasi semakin sempit dan eksklusif. Padahal, begitu banyak lembaga dan sektor kaderisasi yang bila dihidupkan, bisa memberikan kesempatan luas bagi setiap kader untuk berproses berdasarkan potensinya masing-masing. Ironisnya, kader-kader medioker yang minim pemahaman justru terseret arus politik gerbong “kanda-kandanya”. Tak mengherankan bila banyak kader yang kemudian memilih hengkang, dengan alasan bahwa HmI terlalu politis dan eksklusif.

Jerat elitisme tak hanya berhenti pada urusan kaderisasi, melainkan telah terinternalisasi pada watak kader itu sendiri. Maka, jangan heran mengapa banyak kader—khususnya elit pengurus baik di tingkat cabang maupun pusat—berlomba-lomba menggelar acara mewah di gedung atau hotel besar. Tamu undangannya pun bukan main, minimal pejabat eselon II beserta sejawatnya. Niatnya tak lain agar elit HmI ini bisa satu panggung dengan para pejabat tersebut, setidak-tidaknya dalam poster acara. Kalau tidak, acara lebih baik diundur. Tak usah jauh-jauh, HmI Cabang Yogyakarta beberapa waktu lalu telah mencontohkan itu!

Inilah yang sebenarnya menyebabkan organisasi menjadi semakin berjarak dari masyarakat. Gaya mewah dan elitis yang mewarnai watak, khususnya para pimpinan HmI, mempertebal sekat antara kader dengan masyarakat. Alih-alih menyambung lidah rakyat kecil, kader HmI malah menjadi proksi dan perpanjangan tangan kekuasaan serta turut andil dalam menambah kesengsaraan rakyat. Ajaibnya, nama “rakyat” kadang-kadang tetap dijual dalam forum mewah yang mereka adakan di gedung-gedung mahal.

***

Angka 79 adalah angka keramat. Hal yang keramat harus disambut dengan sikap penuh hormat. Jika tidak, ia bisa mendatangkan bala dan kutukan. Sebagai kader Himpunan mahasiswa Islam, saya tentunya tak ingin organisasi ini menemui ajalnya di usia yang sudah setua ini. Sudah saatnya HmI kembali berbenah dan meneguhkan apa yang menjadi tujuannya: terwujudnya masyarakat adil makmur.

Masyarakat adil dan makmur tidak dapat terwujud dari bilik hotel dan gedung mahal, juga bukan dari forum-forum mewah yang diisi para pejabat, melainkan dari mendengar keluh kesah rakyat kecil. Kini, kader HmI tak perlu lagi dengan jumawa menyatakan ingin “memetakan peradaban”. Yang perlu dipetakan adalah dirinya sendiri serta kontribusinya bagi masyarakat.

 

Abil Arqam Lubis
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Direktur Utama Lapmi Sinergi Cabang Yogyakarta

Related Articles

Stay Connected

- Advertisement -spot_img

Artikel Terbaru