21.9 C
Yogyakarta
Kamis, Februari 5, 2026
spot_img

Merenungi Pelan-pelan di Kota yang Bergerak Cepat

Akhir-akhir tahun ini, tepatnya tahun 2025 saya mulai melakukan sesuatu yang tampak sepele, yaitu berjalan kaki ke mana-mana. Bukan karena tidak punya kendaraan, tetapi karena ingin mencoba hidup dengan ritme yang berbeda. Yogyakarta, yang selama ini saya kenal sebagai kota ramah dan bersahaja, justru memperlihatkan wajah lain ketika saya menyusurinya dengan langkah kaki, bukan dari balik setang atau atau alat kemudi lainnya.

Awalnya, berjalan kaki adalah keputusan praktis. Untuk jarak dekat, menggunakan kendaraan terasa tidak efisien. Saya harus memikirkan tempat parkir dan membayar parkir, lalu kembali mengulangi proses yang sama di tempat lain. Dari situ saya mulai bertanya: mengapa untuk jarak yang bisa ditempuh sepuluh atau lima belas menit dengan berjalan, saya justru memilih cara yang lebih rumit dan mahal?

Namun, semakin sering saya berjalan kaki, alasannya tidak lagi sebatas efisiensi. Ada kesadaran baru yang tumbuh, bahwa berjalan kaki membuat saya benar-benar hadir di kota ini. Saya mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya terlewat; trotoar yang tidak selalu rapi; wajah-wajah orang yang lalu-lalang; suara kota yang lebih jujur terdengar ketika langkah melambat. Yogyakarta tidak lagi sekadar latar tempat, melainkan ruang hidup dan dinamika yang saya alami secara langsung.

Di titik ini, berjalan kaki menjadi praktik reflektif. Tubuh bergerak, pikiran ikut bekerja. Saya merasakan sendiri bagaimana aktivitas sederhana ini memberi efek pada kesehatan, tubuh terasa lebih ringan, pikiran lebih jernih, dan stres berkurang tanpa harus mencari cara yang rumit—minum alkohol, dugem atau aktivitas yang mengabiskan uang lainnya. Berjalan kaki seperti mengingatkan bahwa kesehatan tidak selalu harus diupayakan melalui sesuatu yang mahal atau kompleks.

Ironisnya, kebiasaan berjalan kaki bukanlah praktik umum di Indonesia. Rata-rata langkah harian masyarakat masih rendah, dan kendaraan bermotor sering menjadi pilihan utama bahkan untuk jarak dekat. Saya menyadari bahwa pilihan berjalan kaki sebenarnya adalah sikap kecil untuk melawan arus kebiasaan. Namun justru di situlah letak maknanya: berjalan kaki menjadi bentuk kesadaran personal, sekaligus kritik diam-diam terhadap gaya hidup yang terlalu bergantung pada kecepatan.

Penelitian dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa Orang Indonesia dikategorikan sebagai yang paling malas berjalan kaki. Hal tersebut dikemukakan oleh para peneliti Universitas Stanford, Amerika Serikat, lewat survei seluruh dunia yang dipublikasikan di jurnal Ilmu Pengetahuan Alamiah. Penelitian ini dengan menggunakan alat bantu data smartphone untuk melacak aktivitas fisik yang dilakukan lebih 700.000 orang dari 111 negara. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa rata-rata orang Indonesia hanya aktif berjalan sebanyak 3.513 langkah saja. Sangat jauh apabila dibandingkan dengan warga China yang sehari berjalan dengan rata-rata 6.189 langkah per hari.

Selain Indonesia, Amerika Serikat juga mengisi daftar negara dengan tingkat kemalasan berjalan kaki yang juga tinggi. Terkalkulasi sebanyak 4.774 langkah jika diambil rata-rata setiap harinya.  Kecenderungan malas berjalan kaki dapat menimbulkan beberapa ganguan kesehatan, salah satunya adalah obesitas, yaitu kondisi medis kronis yang ditandai dengan penumpukan lemak tubuh berlebihan dan abnormal atau kelebihan berat badan yang tidak ideal. Maka tak heran, Indonesia dan Amerika menjadi penyumbang potensi obesitas cukup besar dibandingkan dengan negara-negara lainnya.

Di Yogyakarta, pilihan ini terasa sulit dengan berbagai alasan. Kota ini tidak terlalu ramah pejalan kaki, padahal kota ini cukup manusiawi untuk dilalui dengan langkah kaki. Saya merenungi sembari berjalan kaki, bahwa hal ini membuat saya sadar bahwa waktu tidak selalu perlu dikejar. Ada nilai dalam melambat yang mana dapat memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk beradaptasi dengan ritme yang lebih sehat.

Pada akhirnya, berjalan kaki bagi saya bukan sekadar soal mobilitas. Ia adalah investasi kesehatan, disiplin diri, dan cara baru memaknai kota. Setiap langkah adalah keputusan kecil yang, jika dilakukan terus-menerus, membentuk cara hidup yang lebih sadar. Menjelang akhir tahun 2025, saya belajar satu hal sederhana namun penting, bahwa hidup tidak selalu perlu dipercepat. Kadang, ia justru menemukan maknanya ketika dijalani dengan berjalan kaki.

Related Articles

Stay Connected

- Advertisement -spot_img

Artikel Terbaru