Yogyakarta, 3 April 2026 — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta resmi melantik Badan Pengelola Latihan (BPL) pada Jumat (3/4) di Aula Teras Malioboro 1. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam memperkuat sistem kaderisasi HMI yang lebih adaptif terhadap dinamika sosial dan politik.
Pelantikan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang keilmuan. Dr. Amin Tohari dalam materinya bertajuk “Menata Sistem Training HMI untuk Penguatan Analisis Kader dalam Lanskap Sosial dan Politik” menekankan pentingnya sistem pelatihan yang mampu membentuk daya analisis kader secara kritis dan berbasis riset.
“Training HMI harus diarahkan tidak hanya sebagai kegiatan formal, tetapi menjadi ruang produksi pengetahuan yang mampu membaca realitas sosial secara mendalam,” ujarnya.
Selain itu, Dr. Sri Wahyuni yang merupakan Ketua Umum BPL HMI Cabang Yogyakarta periode 2002–2004, menyampaikan materi “BPL Kuat HMI Hebat: Menguatkan Kaderisasi HMI untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan”. Ia menegaskan bahwa kekuatan HMI terletak pada konsistensi kaderisasi yang terstruktur dan berorientasi pada pembentukan kepemimpinan.
Sementara itu, Dyah Ayu Listyarini dari BLKPP DIY membawakan tema “Penguatan Sumber Daya Manusia untuk Mendorong Pembangunan dan Produktivitas Bangsa Indonesia”. Ia menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai kunci menghadapi tantangan global.
Ketua Umum BPL HMI Cabang Yogyakarta, Ihlasul Amal, dalam sambutannya menegaskan bahwa arah kaderisasi ke depan harus mengalami pembaruan pendekatan. Ia menyampaikan bahwa HMI perlu membangun iklim training yang berbasis riset dan berangkat dari persoalan nyata di tengah masyarakat.
“Kita harus membangun dan menciptakan iklim training dan perkaderan yang berbasis riset serta berangkat dari masalah. Dengan begitu, kader tidak hanya memahami teori, tetapi mampu memberikan solusi atas realitas yang dihadapi,” ujarnya.
Pelantikan ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat peran BPL sebagai pengelola utama sistem training HMI, sekaligus mendorong lahirnya kader yang kritis, solutif, dan berdaya saing dalam menghadapi perkembangan zaman.


