21.9 C
Yogyakarta
Minggu, Maret 15, 2026
spot_img

Lagu yang Melebur Dunia: Obituari John Tobing

Setelah dikejutkan oleh testimoni FB Nezar Patria, Lilik Hastuti Setyowatiningsih, Wahyu Susilo & Saleh Abdullah, aku mengalami flashback seharian ini. Mungkin tak ada salahnya menulis kenangan dari PoV di luar pengalaman sahabat-sahabatnya.

Darah Juang mampu mengubah eksistensimu. Bahkan bisa membuat seorang anak pejabat ataupun anak dari kaum berada merasa hina-dina, papa, dan tertindas, lalu bangkit dan melawan.

Darah Juang bisa jadi membuatmu merinding. Bisa juga bersimbah air mata, peluh, bahkan darah seperti yang ia lantunkan. Kekuatannya tentulah pada pesan yang menggugah, tapi bagiku, terutama pada penggambaran satir yang begitu kontras antara realitas tanah air yang penuh kekayaan alam dengan nasib dan petaka sebuah generasi dalam negara yang pongah, tak peduli, dan penuh kekerasan.

Pada Rabu malam, 25 Februari 2026, pengarang lagu ini, John Tobing, berpulang ke haribaan-Nya setelah berjuang melawan stroke dan melewati pengobatan sakitnya. Namun, kegetiran dalam petikan gitarnya, gema perlawanan dalam setiap liriknya, senantiasa hidup dalam jiwa para aktivis tak terhitung, dari generasi mahasiswa dan bukan mahasiswa.

Sebagian terbesar dari aktivisme kemahasiswaan memang kuhabiskan di Jogja, namun itu tidaklah membuatku masuk ke dalam lingkaran pergaulan akitivisme pergerakan. Aku lebih banyak menjaga rumahku sendiri, HMI, dan bergerak dalam wadah organisasi kader tersebut, sambil menjaga kekaguman pada parlemen jalanan.

Beberapa kali kesempatan untuk mengubah identitas itu muncul, misalnya, kawan-kawan KPPRP sedang melakukan roadshow untuk merekrut kami yang kebetulan dalam kepengurusan Korkom setingkat universitas maupun cabang setingkat kota. Setelah bercerita tentang kondisi sosial-politik, para aktivis mengenalkan bahwa mereka adalah gerakan perubahan, katakanlah, PRD dinyatakan terlarang dan aktivisnya diburu. Budiman Sujatmiko, Dita Indah Sari dan Andi Arief bersama nama-nama mentereng lainnya tentulah sangat populer di mataku, terlepas apa pun kehebatan banyak organ gerakan mahasiswa lain yang berjuang di Jakarta.

Atau pada saat beberapa kali aku ikut aksi yang dilakukan oleh kawan-kawanku di KMPD (Baca: Kemped) yang salah satu pentolannya, Abdur Rozaki juga ketua Senat kami. Dia lebih suka tidur di luar daripada di kos kami yang sempit, sambil menitip buku-bukunya karena keharusan menghilangkan diri.

Situasi memang penuh ketidakpastian dengan mulainya penculikan-penculikan. Banyak pula demonstrasi dibubarkan, bahkan walau hanya orasi di dalam kampus sendiri, oleh aparat yang dibiarkan berkeliaran begitu saja oleh petinggi kampus. Dalam aksi-aksi keprihatinan beberapa waktu sebelum reformasi, KMPD, DMPY, FKSMY dan organ lainnya bersolidaritas terhadap pembubaran PRD dan korban kekerasan Orde Baru lainnya, kami dibakar oleh orasi, testimoni, puisi, lagu, teatrikal dan pernyataan sikap. Salah satunya kami dilebur oleh “Aku Ingin Jadi Peluru” dan “Darah Juang”. Dalam aksi-aksi semacam itu aku pernah bersua Wiji Tukul, sebelum hilang tanpa jejak, namun aku tak pernah bertemu langsung dengan John Tobing. Kami pun beda generasi.

Masuk ke dalam pergerakan semacam itu memang tidak pernah terjadi. Aku tidak berminat berada dalam dua organisasi yang berbeda, meskipun beberapa aktivis HMI seperti dari cabang Bulaksumur  dan cabang Solo mengambil cara berbeda dan progresif. Memulai dalam sebuah organisasi kader seperti HMI, namun memilih aktivisme dalam organisasi pergerakan seperti PRD dan organ-organnya, bahkan hingga menjadi pimpinan pusat mereka. Beberapa di antara kami di cabang Yogyakarta justru memilih untuk mengubah HMI dari dalam selagi berada di pengurusan dan memaksimalkan anggotanya dengan orientasi baru politik yang berbeda dengan politik kekuasaan kanda-nyunda ala masa Orde Baru.

Tentulah upaya kami tidak mudah. Barangkali lebih mudah bagi aktivis berpindah organisasi saja dan mencoba melakukan perubahan dengan organ pergerakan yang sejatinya dirancang untuk itu. Melakukan protes di kampus, menggalang aksi solidaritas, atau turun sebagai parlemen jalanan. Setelah kami merutinkan diskusi, melakukan pelatihan kaderisasi, dan sesekali membuat pernyataan pers, akhirnya tiba juga sebuah peluang perubahan gerakan dari dalam.

Di tengah kekalutan aktivis akan negara yang bobrok dan ketidakpastian kebijakan HMI, sebuah undangan kepada cabang Yogyakarta meminta kami mengirim 1 orang perwakilan. Tidak perlu lama untuk memutuskan, aku pun berangkat ke lembang untuk membuat gerakan progresif ala HMI. Selama kurang lebih seminggu, kami diberi Kurpol, sesuatu yang sama sekali berbeda dengan pelatihan kader organisasi yang berjenjang hingga masa itu (dan barangkali hingga kini). Sekitar 30 aktivis dari berbagai kepengurusan cabang terpilih menjalani pembacaan politik, ekonomi, geopolitik, narasi, hingga advokasi dan penyusunan politik gerakan dan strategi.

Rasanya kami di-charge dengan pengetahuan baru dan pemikiran yang lebih tajam. Tapi Kurpol kami itu lebih bersifat “intelektual” ketimbang gerakan. Bagaimanapun, narsum dan pelatih yang menggodok kami itu orang kampus, aktivis NGO, dan senior-senior terkenal nan berpengaruh. Pengetahuan dan analisis kami mungkin bertambah baik, tapi tidaklah mengubah perspektif dan posisi kami secara radikal.

Radikalisasi alamiah hanyalah mungkin melalui perjumpaan dengan aktivis dari latar pergerakan atau warga akar-rumput. Saat mereka membuatmu tertantang untuk turun ke jalan bersama mereka. Melakukan aksi-aksi resistensi di kampus dan di jalanan.

Saat meletusnya Reformasi, semua itu tidak lagi masalah. Kadar sebuah perjuangan bukan lagi ditentukan oleh bendera dan corak organisasi, tapi pada keikutsertaan berjuang. Baik pada saat bentrok di gang-gang kota di seputaran Gejayan bersama kawan-kawan UGM, IKIP, Sanatadharma yang akhirnya mengorbankan Moses Gatotkaca. Atau saat demostrasi di pertigaan Jalan Solo-Timoho di seputaran Sapen oleh mahasiswa UIN dan sekutu kampus lainnya. Tanpa pelatihan memadai tentang perencanaan dan manajemen aksi, tetaplah ada yang harus memimpin sebuah demonstrasi meskipun malam sebelumnya Jalan Solo diporak-porandakan pasukan tidak dikenal. Atau saat memobilisasi aktivis HMI untuk terlibat dalam Pisowanan Agung Gerakan Rakyat sehari jelang Soeharto turun. Di setiap aksi, di setiap momen, Darah Juang lah lagu wajibnya.

Setelah Reformasi berhasil dan mulai meneliti buruh dan sesekali ikut aksi bersama merekadi Jakarta, aku kembali mengalami gemuruh Darah Juang. Kali ini lantunannya bukan lagi dari mulut mahasiswa tapi dari rakyat nyata yang diceritakan dalam syair lagu. Tak jarang ia membuat jeda yang magistik di antara kemarahan demonstran dan kekerasan aparat.

Jika ada orang yang karyanya melampaui sekat perbedaan kelompok, isu, dan generasi aktivis, barangkali John Tobing salah satunya. Lagu yang menumbangkan tirani, warisan tak terhingga nilainya.

John Tobing telah melewati semua rasa sakitnya: tentang tubuh yang meradang, pikiran yang gelisah, dan jiwa yang melawan. Sesuatu yang melalui lagu itu beresonansi dalam diri banyak kita.

Selamat Jalan, Bung!

Ilham B. Saenong
Ilham B Saenong adalah Manajer Pengembangan Program untuk Kebebasan Sipil di Era Digital pada Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis). Meraih gelar sarjana Tafsir Hadis dari UIN Sunan Kalijaga (1999) dan magister Antropologi dari Universitas Indonesia (2003). Bekerja dengan jaringan masyarakat sipil dan pemerintah untuk meningkatkan integritas publik, pemerintah terbuka, toleransi, kebebasan berekspresi, dan pembangunan berkelanjutan melalui advokasi, kampanye, dan partisipasi publik berbasis riset, teknologi, dan budaya pop. Ilham pernah menjadi Core Team pada Open Government Partnership (OGP), memimpin koalisi masyarakat sipil anti-korupsi, dan memimpin proyek film pemenang Piala Citra, Piala Dewantara, dan Piala Maya dengan judul "Sebelum Pagi Terulang Kembali" dan "Kita versus Korupsi." Aktif menulis opini di berbagai surat kabar dan media online, seperti Kompas, Tempo, Koran SINDO, Project Multatuli, KataData, dan Indoprogress. Karyanya berupa buku seperti Hermenutika Pembebasan dan 7 Tahun Melawan Korupsi; panduan yang mencakup Tatakelola Dana Abadi LSM, Tatakelola Pelaksanaan SDGs, Pelembagaan Partisipasi Publik di Indonesia, dan Regulasi dan Kebijakan Open Governance di Indonesia; serta novel seri santri. Selama lebih dari 15 tahun, telah memimpin program-program yang didanai oleh organisasi seperti USAID, Uni Eropa, dan DANIDA.

Related Articles

Stay Connected

- Advertisement -spot_img

Artikel Terbaru