31.7 C
Yogyakarta
Sabtu, Maret 21, 2026
spot_img

Hari Raya Idul Fitri di Balik Kopiah Emil Durkheim?

Pagi ini, udara terasa sedikit berbeda. Entah karena sisa hujan semalam yang masih menggantung di dedaunan, atau karena resonansi takbir yang bersahutan dari pengeras suara masjid sejak tenggelamnya matahari kemarin. Sambil merapikan lengan baju yang sedikit lecek karena setrikaan terburu-buru, tanganku meraih sebuah kerudung hitam di atas meja kamar. Warnanya sudah agak kusam di bagian ujung, tanda bahwa ia lebih sering tergencet di dalam tas ransel daripada melilit di kepala di kepala. Saat mematut diri di depan cermin, sebuah pikiran ganjil tiba-tiba melintas. Bagaimana jika pagi ini, perayaan Idul Fitri yang terasa begitu sakral dan melangit ini, kita bedah sejenak menggunakan kacamata seorang sosiolog Prancis berjanggut lebat dari abad ke-19, Emile Durkheim?

Membawa nama Durkheim ke tengah aroma opor ayam yang sedang dihangatkan di dapur mungkin terdengar pretensius, atau bahkan sedikit absurd. Dia bukan seorang ulama, apalagi pernah ikut merayakan repotnya jamuan hari raya. Tapi ketika aku melilitkan kerudung ini di kepala dan mulai berjalan keluar rumah, teori-teorinya tentang agama dan masyarakat tiba-tiba terasa begitu bernapas, hidup bersama ribuan orang yang berbondong-bondong menuju Masjid. Bagi Durkheim, agama bukanlah sekadar urusan vertikal yang sunyi antara manusia dan Tuhannya di ruang hampa. Agama, baginya, adalah perekat sosial yang paling purba dan paling kuat. Dan pagi ini, di tahun 1447 Hijriah yang serba digital, bising, dan penuh keterasingan ini, kita seolah sedang mempraktikkan tesis agungnya secara masal.

Mari kita mulai dari kerudung hitam yang sekarang melekat di kepalaku, dan kopiah di kepala bapak-bapak serta anak muda yang berpapasan denganku di jalan. Dalam keseharian kita yang biasa, sepotong kain beludru ini mungkin masuk dalam kategori apa yang disebut Durkheim sebagai hal yang profan – fana, biasa saja, bagian dari urusan duniawi yang repetitif. Ia bisa dilempar sembarangan ke atas kasur atau tertindih buku tagihan. Namun hari ini, dalam konteks hari raya, kerudung ini bermutasi menjadi sesuatu yang sakral. Ia bukan sekadar penutup kepala; ia menjadi seragam kebesaran komunal. Ia adalah penanda bahwa si pemakai sedang bersiap memasuki ruang dan waktu yang suci, sebuah dimensi di mana aturan main duniawi untuk sementara waktu ditangguhkan.

Saat kaki akhirnya menginjak pelataran masjid atau hamparan lapangan rumput yang sudah disulap dengan alas koran bekas dan sajadah, kita dihadapkan pada fenomena yang oleh Durkheim disebut sebagai collective effervescence atau efervesensi kolektif. Mendaras takbir sendirian di dalam kamar dan menggemakannya bersama ribuan orang di ruang terbuka memberikan sensasi batin yang sama sekali berbeda. Ada getaran aneh yang merayap di tengkuk. Suara Allahu Akbar yang diulang-ulang dalam ritme yang teratur itu menciptakan gelombang energi emosional yang perlahan-lahan meleburkan ego individu. Di momen itu, aku bukan lagi seorang pekerja yang kelelahan memikirkan tenggat waktu, dan ibuk di sebelahku bukan lagi seorang pedagang kaki lima yang semalam khawatir akan omzetnya. Kami lebur menjadi satu entitas tunggal yang lebih besar: sebuah umat.

Durkheim pernah berteori bahwa dalam momen-momen ritual yang intens seperti inilah, masyarakat sebenarnya sedang memuja kekuatan moral yang mengikat mereka. Pernyataan ini sering disalahpahami, padahal maknanya sangat puitis jika diletakkan dalam konteks sosial. Tuhan tentu saja adalah entitas tunggal yang menjadi pusat ibadah ini, tetapi efek sosiologis dari ibadah tersebut adalah bahwa masyarakat sedang mengisi ulang baterai solidaritas mereka yang mulai soak. Kita hidup di era modern yang sangat individualis, yang oleh Durkheim disebut solidaritas organik. Kita saling membutuhkan hanya karena kita punya spesialisasi yang berbeda. Hubungan kita sehari-hari cenderung transaksional, dingin, dan sangat rentan patah oleh perbedaan pendapat atau algoritma media sosial yang gemar mengotakkan kita.

Namun, perhatikanlah apa yang terjadi saat imam mulai mengangkat tangan untuk takbiratul ihram. Ratusan, bahkan ribuan orang, melakukan gerakan yang sama, di waktu yang sama, dengan arah yang seragam. Bahu bertemu bahu, kaki merapat dengan kaki dalam shaf yang padat. Ini adalah kilas balik yang indah menuju solidaritas mekanik – sebuah ikatan sosial purba yang didasarkan pada kesamaan yang mengikat. Di atas hamparan sajadah, semua hierarki sosial buatan manusia dibongkar paksa. Direktur perusahaan raksasa bisa saja sujud di atas aspal tepat di belakang seorang pemuda pengangguran, dan tidak ada ruang untuk protes. Ritual pagi ini memaksa kita keluar dari gelembung individualisme yang arogan, mengingatkan kita secara fisik dan emosional bahwa kita selalu bergantung pada orang lain.

Lalu, datanglah momen yang paling Durkheimian dari seluruh rangkaian hari raya ini: tradisi saling memaafkan. Setelah doa penutup diaminkan dan formasi shaf bubar, yang terjadi selanjutnya adalah jabat tangan, pelukan, dan silaturahmi. Tangis yang kadang tanpa tedeng aling-aling pecah saat bersimpuh di pangkuan orang tua, atau tawa kikuk saat bersalaman dengan tetangga yang mungkin bulan lalu sempat cekcok perkara ranting pohon atau pilihan politik. Jika ritual shalat berjamaah adalah cara kita menyatukan frekuensi, maka tradisi sungkeman dan keliling kampung ini adalah mekanisme perbaikan struktur sosial yang retak.

Durkheim percaya bahwa struktur masyarakat itu sebenarnya rapuh; ia selalu terancam oleh erosi konflik dan egoisme pribadi. Idul Fitri, dengan segala kerempongan persiapan dan tradisi maaf lahir batin yang kadang terasa klise itu, sesungguhnya adalah sebuah agenda maintenance sosial berskala nasional. Tanpa ritual tahunan semacam ini, ikatan-ikatan rapuh di antara kita mungkin sudah lama terputus, tak kuat menahan beratnya beban modernitas yang semakin hari semakin mengasingkan.

Kini matahari sudah semakin tinggi dan menyengat. Aku kembali melangkah masuk ke rumah, melepas kopiyah hitam itu, dan meletakkannya kembali di atas meja. Rasa sakral yang sedari tadi mengawang pelan-pelan menyublim, menarikku kembali pada realitas profan yang riuh oleh suara obrolan sanak saudara dan bunyi piring berdenting. Namun, ada yang tersisa di dada. Sebuah rasa lega, bukan semata karena kewajiban spiritual telah tertunaikan, tetapi karena tanpa sadar, aku dan jutaan orang lainnya baru saja merawat kewarasan masyarakat tempat kami berpijak. Di balik lipatan lengan jubah dan lekukan kerudung usang ini, hari raya bukan sekadar perayaan individu. Ini adalah kemenangan masyarakat atas ancaman keterpecahan. Dan untuk sebuah kemenangan sebesar itu, semangkuk opor ayam rasanya adalah bentuk perayaan yang paling masuk akal.

 

Related Articles

Stay Connected

- Advertisement -spot_img

Artikel Terbaru