26.9 C
Yogyakarta
Rabu, Juni 24, 2026
spot_img

The End of Philosophy dan Neo-Pragmatisme Richard Rorty

Paper ini berusaha menganalisis latar belakang dari klaim yang diutarakan oleh Richard Rorty (1931-2007) seorang filsuf kontemporer yang menghidupkan kembali tradisi pragmatisme Pierce, James, dan Dewey yang diperkaya perspektifnya melalui tradisi filsafat analitik dan kontinental. Rorty menyatakan “akhir daripada filsafat” (the end of philosophy) dan mensejajarkannya dengan agama, sains, seni, serta bentuk pengetahuan-pengetahuan lokal lainnya. Menurut hemat penulis, Rorty membuka mata kita akan alternatif-alternatif baru manakala dihadapkan dengan permasalahan hidup manusia yang semakin plural, saling terhubung yang menuntut percakapan interdisipliner dengan cara mengapresiasi paradigma yang selama ini terpinggirkan oleh sejarah dan sosial.

Dekonstruksi Epistemologi Fondasionalisme

Sumber deklarasi “kematian filsafatnya” berasal dari karya yang ia tulis di tahun 1979, Philosophy and the Mirror of Nature dan Consequence of Pragmatism di tahun 1982. Rorty menyasar epistemologi barat modern dari mulai Descrates, Locke, Kant yang kemudian berakhir pada aliran positivisme, dalam perjalanannya, filsafat Barat modern melakukan pencarian akan pijakan yang kokoh dan kredibel bagi pengesahan akan mana yang benar dan mana yang salah. Konsep yang berhasil dirumuskan dalam pergulatan epistemik ini adalah konsep kebenaran sebagai koherensi dan korespondensi. Rorty menyebut keduanya sebagai teori fondasionalisme (Hardiman 2023).

Baik koherensi yang mematok sistematika berpikir yang runut lagi sah dan korespondensi yang mencari kesesuaian antara pikiran dan kenyataan, antara pernyataan dan kenyataan, keduanya membutuhkah titik acuan yang tidak boleh dipertanyakan ulang dan sudah terbukti dengan sendirinya (primary truth), kalau tidak bagaimana kita bisa menentukan yang benar dan salah? Teori pengetahuan tersebut tidak hanya fundamental dalam filsafat modern melainkan juga landasan dari perkembangan sains yang mengkonstruksi modernitas dengan semangat kemajuan ilmu pengetahuannya. Tepat disinilah Rorty mendekonstruksi kemapanan teori fondasionalisme.

Rorty mengartikan epistemologi fondasionalis sebagai cerima alam (mirror of nature) karena anggapan kaum fondasionalis ketika apa yang kita pahami serupa dengan kenyataan alam maka itulah kebenaran. Baik koherensi ataupun korespondensi, keduanya menyiratkan bahwa pikiran kita berfungsi untuk menghadirkan ulang alam semesta seperti halnya cermin yang memantulkan objek di hadapannya. Dengan kata lain teori ini meng-amini kebenaran jika pikiran, bahasa, dan alam semesta terkoneksi satu sama lain (Hardiman 2023). Rorty dalam karyanya Philosophy and the Mirror of Nature menunjukan niatnya untuk meruntuhkan teori tersebut:

Tujuan dari buku ini adalah untuk membombardir keyakinan pembaca soal pikiran (mind) sebagai sesuatu yang seharusnya dimiliki orang sebagai pandangan “filosofis”, tentang “pengetahuan” sebagai sesuatu yang seharusnya ada sebagai suatu “teori” dan mempunyai “fondasi-fondasi”, dan tentang “filsafat sebagaimana yang dipahami oleh kant.”

Aksi dekonstruktif yang Rorty lakukan untuk meruntuhkan teori fondasionalisme ini ia tempuh lewat tradisi analitik Wittgenstein akhir tentang language-game-nya. Menurut Wittgenstein, bahasa bukanlah cerminan dari alam ataupun representasi dunia, namun sebuah alat yang dipakai manusia dalam beragam konteks dan bisa berubah maknanya menyesuaikan konteks-konteks yang berlainan. Salah satu language-game yang mendominasi alam berpikir filsafat barat abad ke-17 adalah dualism jiwa-badan atau subjek-objek.

Menurut Rorty, epistemologi adalah hasrat untuk membatasi dan menemukan fondasi-fondasi. Oleh karena itu, epistemologi (dalam hal ini aliran fondasionalisme) dianggap melakukan standarisasi pikiran agar kebenaran yang diperoleh itu bersifat universal, objektif, dan ahistoris, mengapa hal ini dianggap bermasalah oleh Rorty? Sebab standarisasi itu telah melakukan pemusatan kesadaran, sedikit menyinggung soal zaman dan spektrum filsafat yang dirasakan Rorty, ia hidup dalam periode filsafat revolusioner yang dibawa oleh Wittgenstein, Heidegger, dan Dewey, artinya, linguistic turn dalam filsafat kontemporer, yaitu filsafat tidak lagi terobsesi pada persoalan kesadaran, melainkan mulai fokus pada fenomena bahasa yang membawa konsekuensi relativasi pengetahuan (Hardiman 2023). Filsafat dan sains modern termasuk cara-cara manusia memahami alam yang tidak lepas dari kontigensi sejarah dan bahasa.

Melanjutkan pembahasan Rorty perihal dualisme Cartesian, antara jiwa-badan, subjek-objek, atau antara res cogitans dan res extensa, persoalan jiwa-badan itu tidak berasal dari intuisi akal-sehat, melainkan temuan filsafat abad ke-17 yang menyederhanakan intuisi akal sehat kita. Budi Hardiman menganalogikannya dengan lensa kamera yang menyeleksi dan fokus pada sesuatu dengan mengabaikan banyak hal lain yang memiliki potensi menimbulkan kesangsian (kebenaran alternatif). Rorty menyebut sudut pandang dari cara melihat dan memahami subjek-objek ini sebagai pemusatan itu sebagai epistemologi (Hardiman 2023). Oleh sebab itulah filsafat (atau lebih konkritnya epistemologi) dan sains sebagai anak dari epistemologi fondasionalistik hanyalah bagian dari percakapan manusia, sama halnya dengan seni dan sastra, maka tidaklah boleh filsafat dan sains mengklaim sebagai hakim terakhir (sebagaimana yang dipahami Kant dalam Idealisme Transendentalnya) diatas pengetahuan-pengetahuan yang lain. Sebab penyempitan yang dilakukan filsafat tanpa disadari itulah dan dipandang tidak bisa memberikan jawaban atas kontigensi sejarah dan bahasa, Rorty mengumumkan “the end of philosophy” (era filsafat telah berakhir).

 

Siapa yang akan mengantikan filsafat?

Lantas, apakah Rorty sebagai seorang anarkis seperti halnya Feyerabend yang berprinsip Anything goes dan anti-metodologinya? Untuk memediasi usaha pemahaman manusia agar tidak terjatuh kedalam nihilism, Rorty menawarkan hermeneutik sebagai ganti dari filsafat, bukan sebagai metode, disiplin ilmu, atau program riset, namun sebagai (mengutip kalimat yang disusun Budi Hardiman) “bentuk harapan akan pengisian ruang kultural yang sudah ditinggal mati epistemologi”. Secara fundamental, epistemologi berbeda dengan hermenutik, menurut hemat penulis, perbedaan utama antara keduanya terletak pada target yang berusaha dicari keduanya. Epistemologi mencari episteme atau pengetahuan objektif yang secara faktual benar atau mengandaikan pikiran dapat menjadi cerminan alam. Sedangkan hermeneutik mencari phronesis,  kebijaksanaan praktis, di mana kebenaran itu kontekstual dan terkait dengan situasi yang beragam dan dinamis (Hardiman 2023).

Neo-Pragmatisme untuk Kontigensi Sejarah dan Bahasa

Rorty sangatlah jelas bersebarangan dengan para filsuf modern barat seperti Descrates, Locke, dan Kant yang mengandaikan kebenaran itu ditemukan dan bukan dibuat. Bagi Rorty, mau itu kebenaran, justifikasi, dan kepastian merupakan perkara lingusitis, ditata menurut aturan linguistis, dan terintegrasi di dalam language game. Dalam pandangannya, kebenaran itu tidak ditemukan, melainkan dibuat, dan kebenaran itu diterima karena bermanfaat bagi Masyarakat. Jadi Rorty mengambil posisi pragmatic theory of truth. Menurut teori tersebut sesuatu dikatakan benar ketika sesuatu, entah itu sistem atau perilaku, berfungsi dengan baik atau menghasilkan manfaat. Sebagaimana kebenaran faktual, walaupun banyak dipersoalkan oleh filsuf kontemporer seperti Habermas, Kuhn, Fereyabend, dan Foucault sebagai bentuk standar yang menyempitkan pemahaman dan alat seleksi kebenaran, bagi Rorty fakta menjadi kebenaran karena menghasilkan manfaat bagi banyak bidang, namun tidak otomastis bermakna bahwa fakta adalah realitas itu sendiri (Hardiman 2023).

 

 

Related Articles

Stay Connected

- Advertisement -spot_img

Artikel Terbaru